Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ULASAN PERTANDINGAN MU VS LIVERPOOL

 Kualitas Taktik Menjadikan MU Dihancurkan Liverpool

Pertarungan Manchester United (MU) dan Liverpool selalu dalam sorotan media dan pecinta sepakbola di seluruh dunia. Sejarah panjang perseteruan dua tim ini seakan tak pernah surut oleh musim, perseteruan yang mewarnai generasi ke generasi adalah pertunjukan hagemoni kekuasaan dua tim ini di ranah sepakbola Inggris. 

Kekalahan dan kemenangan dalam sepakbola dan olahraga adalah hal biasa. Tetapi menjadi tidak biasa jika itu menyangkut hasil pertarungan kedua tim ini. Hasil itu akan diasuh oleh sejarah panjang, sebagai catatan yang mengendap dalam liang ingatan. Mungkin keadaan akan berubah, musim berganti, para pemain silih datang dan pergi. Tetapi catatan kemenangan dan kekalahan dari arena adu  tarung dua klub ini akan terpelihara dengan baik. Perihnya kekalahan terus terasa sakit, tak ada tempat untuk sekadar meredakan, dan mewahnya kemenangan pun demikian, terus menerus menari-nari riang gembira dalam pikiran. Mungkin sedikit kejam, tapi itulah pesan yang jelas agar kita bersiap diri untuk tidak kalah. 

Apa yang dipersiapkan Ole Gunnar Solskjaer (OGS) malam tadi di tengah panggung stadion yang mereka sebut sebagai Theater of Dreams itu tidak tepat dan tidak cerdas sehingga yang mereka tuai dari pertarungan malam tadi bukan lagi tentang panggung impian, tetapi sederetan mimpi buruk yang menakutkan. Jadi aneh, mimpi buruk datang dari tempat yang indah.

Dengan susunan skuad bertype menyerang mungkin akan menakutkan bagi tim medioker, tetapi OGS seharusnya tidak lupa bahwa yang datang ke stadion mereka adalah tim yang sangat disiplin menjaga keseimbangan, memelihara kekuatan menyerang sama presisinya dengan kekuatan bertahan. Dan Liverpool si lawan yang mereka jamu ini adalah tim yang memiliki kecepatan penuh di semua lini.

Mungkin fans MU bahkan OGS pun sulit menjawab pertanyaan sederhana : coba tunjukkan adakah di skuad lini pertahanan  MU yang mampu meredam kecepatan lini tengah dan lini depan Liverpool?

Jika sulit menjawab itu, mengapa MU harus menurunkan skuad menyerang dengan skema 4-2-3-1 ? Format ini menunjukkan skema baku 4-2-4. Empat pemain di lini pertahanan, dua pemain sebagai double pivot menjaga areal lini tengah lalu 4 pemain membentuk berlian kecil menjadi lini serang. Masuk akal, tetapi ini sama sekali jauh dari tepat. Karena sejatinya, gelandang MU banyak yang malas berlari. 

Pendekatannya begini, mengapa OGS tidak memperhitungkan apakah mereka bisa menguasai bola untuk mengimbangi kecepatan Liverpool? Apakah double pivot Fred dan Scott Mc Tominay mampu mengimbangi kecepatan dan Hendo, Milner dan Keita sebagai tiga gelandang petarung dan pekerja keras ini?

Jadi ada benarnya, apa yang dikritisi oleh Paul Scholes saat MU meladeni Atalanta di UCL pertengahan pekan lalu, bahwa kemenangan come back yang diraih MU itu sesungguhnya menyimpan kekhawatiran jika yang dihadapi tim sekelas Liverpool. Dan Scholes sampai di titik ini benar.

Malam tadi yang terlihat di lini tengah adalah kecepatan bergerak Hendo, Milner dan Keita. Saat kehilangan bola mereka langsung menekan, memarking siapapun pemain MU yang menguasai bola. Situasi ini membuat bola akhirnya sering lepas dan berhasil direbut, karena para pemain MU kalah cepat.

Mc.Tominay sudah cukup kuat mengawal lini tengah tapi Fred banyak kehilangan bola. Rashford yang sering menjemput bola ke lini tengah juga sering membahayakan, tapi seakan bermain sendirian karena kurang dukungan.  Tetapi dominasi bola masih dalan penguasaan para pemain Liverpool. Tiga pemain lini tengah Liverpool serta tiga pemain lini depannya jika menyerang bisa seakan menjadi enam pemain menyerang ditambah dua sayap, TAA dan Robbo. Ada delapan pemain menyerbu dengan kecepatan maksimal. Begitu juga ketika kehilangan bola, ke delapan pemain tersebut menjadi benteng pertahana pertama sebelum sampai ke garis kekuasaan Konate dan Van Dijk. Disinilah perbedaan kualitas yang secara kinerja berbeda mindset. Tetapi diatas lapangan perbedaan ini terlihat sangat jelas.  

Gol Keita adalah hasil dari pola permainan secara tim yang sangat padu. Bola dan pergerakan pemain Liverpool mulus dan cepat, Maguire dan Lendolof kalah cepat menutup ruang gerak Robbo, Firmino dan olah bola Mo. Salah. Dengan sentuhan kecil dari Salah, Keita menyerbu dari lini kedua menempatkan bola diposisi yang tak terjangkau De Gea.

Gok kedua juga demikian, build up dari lini belakang, berputar dari sayap lalu ketengah, balik lagi ke sayap kanan, saat TAA menyerbu bahkan Luke Shaw terlambat menutup ruang TAA yang bebas di areal Shaw, dengan tendangan kencang terarah serta menyusur tanah, Diogo Jota dan Milner berbarengan menyambut bola, seakan mereka hafal pola semacam ini. Ternyata Jota yang duluan menyentuh bola dan gol.

Setiap pola serangan Liverpool bergerak bergelombang, semua posisi perpindahan pemain dan bola begitu indah tanpa dapat dihadang para pemain MU, Maguire jadi bulan-bulanan Mo. Salah, kali ini gol dari cara Keita pengobrak-abrik pertahanan MU menjadikan Salah dengan piawai mengoyak gawang De Gea. Dan gol Salah inilah yang dianggap Ole sebagai peruntuh mental anak asuhnya. 

Gambaran menakutkan dengan 3 gol bersarang di gawang De Gea saat bermain di Old telah memperlihatakan para pemain MU serba salah, serba gugup. Bagaimana mungkin mereka menurunkan 4 pemain bertype penyerang : Greenwood, Rashford, Fernandes dan Ronaldo tetapi mereka tidak memiliki gelandang penghubung yang kuat, lalu siapa yang memasok bola, mau menyerang pakai apa jika bola dalam dominasi lawan? Inilah pendekatan logika kualitas serang MU yang sulit dipahami. Tidak heran jika seorang Ronaldo yang kaliber itu pun banyak manyun ketimbang sentuhan kakinya pada bola. Semua alur serangan dan aliran bola dari tengah mandeg. Dihentikan oleh gelandang Liverpool. Ronaldo gagal  melepaskan diri dari Konate yang menjaganya di ruang manapun.

Bukan saja dalam dua babak dan 5 gol Liverpool itu tercipta dari rancang bangun taktik yang sempurna tetapi juga lahir karena berpadunya sebuah tim dengan 11 pemain yang seluruh panca indra dan jiwa mereka menyatu, saling bergerak menjemput dan memberi, sehingga keseluruhan permainan Liverpool sulit ditandingi. Emosionalnya Ronaldo, kartu merahnya Paul Pogba adalah gambaran nyata bagaimana hati dan pikiran para pemain MU sudah luruh. Mereka tak lagi saling menyatu, taktik Liverpool telah mencerai-beraikan skema mereka, lalu menggiring mereka pada tekanan mental. Mereka gagal menjadi profesional disaat semacam itu. 

Duet Van Dijk dan Konate menunjukkan betapa dewasanya Konate dalam asuhan Van Dijk. Konate patuh dengan gerakan tangan Van Dijk yang memerintah dan mengatur, Van Dijk tidak berteriak tetapi gerakan tangan Van Dijk dipatuhi semua pemain Liverpool.  Konate mengamankan kebintangan Ronaldo, semua bola atas sernagan MU yang mengarah ke Ronaldo 100% mampu dihalau Konate. Alisson pun demikian, kualitas ketenangannya menghadapi serbuan lawan dan tekanan mental, sungguh luar biasa. 

TAA dan Robbo malam tadi kembali menunjukkan elaborasi yang utuh dan saling menguatkan, sehingga para pemain MU sulit merebut bola karena pindah antar area begitu cepat dan tepat. Tak ada bola yang terlepas. 

Saat Sadio Mane masuk setelah kartu merah Pogba, dan Keita digotong keluar lapangan, kita baca isyarat tangan Jurgen Klopp untuk tidak lagi menyerang secara separtan. Cukuplah 5 gol yang tak berbalas itu, karena Klopp tak ingin ada lagi pemainnya yang dicederai. Begitulah bijaknya Klopp. Dia bukan  tak ingin memukul lawan lebih sakit lagi, tetapi dia juga memikirkan kesehatan skuadnya jika menghadapi lawan yang emosional dan sudah banyak yang 'out of control'. Itulah mengapa Skuad Liverpool hanya bermain passing hampir 20 menit tersisa. Itu taktik masuk akal untuk menghabiskan waktu. 

Jurgen Klopp menunjukkan kemampuannya membangkitkan kembali permainan Keita di beberapa game terakhir, padahal sudah sempat anjlok karena banyak cedera. Jones yang dulu lemah, kini semakin berani. Firmansah di lini depan seakan mereka bertiga menikmati kebersamaan mereka yang tajam dan mengagumkan, Konate yang tanpa kita duga justru diturunkan saat lawan MU dan mengahdapi 4 pemain lini serang MU. Dan sangat sukses bagi Konate, kalem, kuat, cermat serta 'the reading game'nya luar biasa. Begitulah Klopp menyiapkan skuadnya musim ini. Tak ada satu musim pun yang runtuh kecuali karena cedera musim lalu, selebihnya Liverpool tampil tangguh, dan dengan mental yang kokoh. 

Ole mungkin punya alasan yang tepat untuk taktiknya. Tetapi melawan Jurgen Klopp dan Liverpool, kesalahan kecil sekalipun tak dapat ditawar, langsung dihukum dengan pukulan telak. Padahal Klopp tidak menurunkan Fabinho. Klopp membangku-cadangkan Sadio Mane dan Matip yang sehat. Tetapi begitulah sebuah kualitas. Selalu diam dan senyap. Bekerja dengan kecerdasan lalu lawanpun dipukul telak. 

Baca juga : Jadwal Liga Champion

Bagi MU tidak mudah untuk kembali bangkit. Tekanan dan kehancuran di stadion kebanggaan mereka adalah aib yang sulit disembunyikan. Kali ini Liverpool bukan saja memukul, tetapi menghancurkan. 

Begitulah faktanya !

Sumber FB : Liverpool and Lover