Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KOMUNIKATOR DALAM PROSES KOMUNIKASI


BAB I
PENDAHULUAN

Dunia komunikasi sebagai proses berhubungan antar individu atau antar kelompok yang tak lepas dari komponen komunikator. Sebuah komunikasi bisa diisi oleh orang-orang yang berkualitas dalam mengungkapkan pesan. Komunikator yang berkualitas tersebut tidak akan dikuasai jika tidak memenuhi kriteria seorang komunikator.


Komunikasi sebagai proses individu/seseorang (komunikator) yang mengirimkan stimulus (biasanya dalam bentuk verbal/ kata kata) untuk memberikan pengaruh atau memodifikasi tingkah laku orang lain (komunikan) [Sosiolog Hovland, Janis dan Kelley, dan Ruben]. Oleh karena itu penulis akan membahasnya dalam makalah yang berjudul Komunikator dalam Proses Komunikasi.

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:
a. Karakteristik Komunikator
b. Syarat-Syarat Komunikator

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikator
Komunikator adalah pihak yang mengirim pesan kepada khalayak. Dalam khazanah ilmu komunikasi, komunikator (communicator) sering dipertukarkan dengan sumber (source), pengirim (sender), dan pembicara (speaker). Sekalipun fungsinya sama sebagai pengirim pesan, sebetulnya masing-masing istilah itu memiliku ciri khas tersendiri, terutama tentang sumber. Seorang sumber bisa menjadi komunikator/pembicara. Sebaliknya komunikator/pembicara tidak selalu sebagai sumber. Bisa jadi ia menjadi pelaksana (eksekutor) dari seorang sumber untuk menyampaikan pesan kepada khalayak. Pengirim adalah orang yg menyuruh untuk menyampaikan.

Pembicara adalah orang yg berbicara Windhal dan Olson (1992) memerinci komunikator dalam sebuah komunikasi terencana (Planned communication) dari perspektif psiko-sosial. Di sini komunikator dipilah-pilah berdasarkan interaksi mereka dengan khalayak. Atas dasar itu komunikator dibagi dalam dua tipe utama:

a. Komunikator dengan Cintra Diri Sendiri (The Communicator’s Self Image)
Komunikator tipe ini lebih mengutamakan kepentingan dirinya sendiri. Proses pengiriman pesan didasarkan atas keinginan sang komunikator. Mereka mengukur kesuksesan komunikasi dari segi kesuksesan mencapai target sasaran secara kuantitatif. Dalam memahami komunikator jenis ini, Windhal dan Olson mengemukakan berbagai orientasi kerja para jurnalis selaku komunikator:
· Orientasi pragmatis (the pragmatics), yang mengukur sukses mereka dari indikator rating.

Contoh:
jenis tayangan hiburan seperti sinema elektronik (sinetron) dan tayangan gossip dinilai sebagai tayangan favorit mayoritas penduduk Indonesia. Orientasi keahlian (the craft-oriented). Di sini komunikator sangat tertarik untuk mendapat penguatan dari komunikator profesional lainnya.

Contoh:
Dalam suatu ruang diskusi, tentunya ada narasumber, moderator, dan peserta. Ketika seorang moderator sedang menjelaskan kepada peserta dan menemukan kebuntuan ketika menjelaskan, dan saat itu si moderator meminta narasumber untuk menjelaskan lebih detail. Orientasi organisasi (the organizational - oriented). Komunikator dengan orientasi ini menghubungkan pekerjaan mereka dengan tujuan yang ditetapkan organisasi.

Contoh: Dalam sebuah organisasi kemahasiswaan, misalnya: ada seorang panitia kegiatan amal yang bertugas mengedarkan kotak amal ke kelas-kelas. Apa yang ia lakukan sebelum meminta dana amal, adalah komunikasi dimana ia berperan sebagai komunikator yang berorientasi pada masyarakat skitarnya.


Orientasi masyarakat/lingkungan (thesociety/environment-oriented) Komunikator menilai pekerjaan mereka dalam hubungannya dengan sub kelompok yang relevan di luar organisasi.
Contoh: Dalam sebuah kegiatan kerja bakti di lingkungan perkampungan.

b. Komunikator Dengan Citra Khalayak (The communicators image of the audience)
Komunikator dengan citra atau kepentingan khalayak adalah komunikator yang mencoba memahami kebutuhan audiens. Mereka sedapat mungkin memperoleh empati dengan hal-hal yang diinginkan oleh khalayak.

Komunikator tipe ini terbagi atas:
1. Paternalisme (paternalism). Hubungan antara komuikator dengan audiens seperti hubungan ayah dan anak. Komunikator menganggap fungsi mereka adalah untuk mendidik dan menginformasikan audiens, semenatara kebutuhan subjektif, kepentingan dan kesukaan diri mereka tidak terlalu menjadi perhatian.
Contoh: Iklan Layanan Masyarakat seperti Hemat dalam penggunaan Listrik, penggunaan kompor gas elpiji, dan BOS (Biaya Operasional Sekolah).

2. Spesialisasi (specialization) ini merupakan proses yang menjadikan komunikator sebagai bagian dari khalayak yang kepentingan dan kebutuhannya diketahui.
Contoh: Acara sang motivator oleh Mario Teguh, iklan susu yang menggambarkan kecerdasan anak, iklan susu untuk usia 50th, iklan Holcim, dsb.

3. Profesionalisasi (profesionalization). Efek ini menyebabkan komunikator berpikir bahwa mereka kompeten untuk memutuskan isi media dan mengetahui lebih baik apa yang seharusnya dilakukan untuk khalayak.
Contoh: Editor, Redaktur pelaksana sebuah majalah/Koran, Dosen dll

4. Ritualisme (ritualism). Komunikator tidak melakukan apa pun yang melebihi usaha mereka menciptakan keadaan menyenangkan audiens. Mereka menjadikan kumunikasi sebagai alat untuk membangun atau memperkuat kebersamaan diantara target khalayak.
Contoh: Informasi Pelaksanaan kerja bakti diLingkungan, ceramah dalam mimbar-mimbar keagamaan.

B. Syarat-Syarat Komunikator
Diperlukan persyaratan tertentu untuk para komunikator dalam sebuah program komunikasi, baik dalam segi sosok kepribadian maupun dalam kinerja kerja. Dari segi kepribadian, agar pesan yang disampaikan bisa diterima oleh khalayak maka sseorang komunikator mempunyai hal berikut (Ruben&Stewart, 1998; 105-109):

1. Memiliki kedekatan (proximility) dengan khalayak. Jarak seseorang dengan sumber memengaruhi perhatiannya pada sepsan tertentu. Semakin dekat jarak semakin besar pula peluang untuk terpapar pesan itu. Hal ini terjadi dalam arti jarak secara fisik ataupun secara sosial.

2. Mempunyai kesamaan dan daya tarik sosial dan fisik. Seorang komunikator cenderung mendapat perhatian jika penampilan fisiknya secara keseluruhan memiliki daya tarik (attractiveness) bagi audiens.

3. Kesamaan (similirity) merupakan faktor penting lainnya yang memengaruhi penerimaan pesan oleh khalayak. Kesamaan ini antara lain meliputi gender, pendidikan, umur, agama, latar belakang sosial, ras, hobi, dan kemampuan bahasa. Kesamaan juga bisa meliputi maslah sikap dan orientasi terhadao berbagai aspek seperti buku, musik, pakaian, pekerjaan, keluarga, dan sebagainya. Preferensi khalayak terhadap seorang komunikator berdasarkan kesamaan budaya, agama, ras, pekerjaan, dan pendidikan berpengaruh terhadap proses seleksi, interpretasi, dan pengingatan pesan sepanjang hidupnya. Evert M. Rogers (1995;286:287) menyebut kesamaan antara komunikator dan khalayak dengan prinsip homofili antara kedua belah pihak ini sangat efektif bagi penerimaan pesan. Tetapi kadang-kadang diantara keduanya terjadi hubungan yang bersifat heterofili, suatu keadaan yang tidak setara anyata sumber dan target sasaran.

4. Dikenal kredibilitasnya dan otoritasnya. Khalayak cenderung memerhatikan dan mengingat pesan dari sumber yang mereka percata sebagai orang yang memiliki pengalaman dan atau pengetahuan yang lias. Menurut Ferguson, ada dua faktor kredibilitas yang sangat penting untuk seorang sumber: dapat dipercaya (trustworthiness) dan keahlian (expertise). Faktor-faktor lainnya adalah tenang/sabar (compusere), dinamisn, bisa bergaul (sociability), terbuka (extroversion) dan memiliki kesamaan dengan audiens. Menunjukkan motivasi dan niat. Cara komunikator menyampaikan pesan berpengaruh terhadap audiens dalam memberi tanggapan terhadap pesan tersebut. Respon khlayak akan berbeda menanggapi pesan yang ditunjukkan untuk kepentingan informasi (informative) dari pesan yang diniatkan untuk meyakinkan (persuasive) mereka.

5. Pandai dalam cara penyampaian pesan. Gaya komunikator menyampaikan (delivery) pesan juga menjadi faktor penting dalam proses penerimaan informasi.
6. Dikenal status, kekuasaan dan kewenangannya. Status di sini menunjuk kepada posisi atau ranking baik dalam struktur sosial maupun organisasi. Sedangkan kekuasaan (power) dan kewenangan (authority) mengacu pada kemampuan seseorang memberi ganjaran (reward) dan hukuman (punishment).

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Komunikator adalah seorang yang menyampaikan pesan kepada khalayak dengan mempertimbangkan perannya sebagai komunikator demi menyukseskan proses komunikasi sehingga komunikan dapat menerima pesan dengan jelas. Dan artinya seorang komunikator telah sukses menyampaikan pesannya kepada komunikan. Jika memang pesan tersebut membutuhkan perbuatan dari komunikan, komunikan tersebut akan melakukan atau mengaplikasiakan pesan yang disampaikan oleh komunikator dalam kehidupan komunikan.

B. Saran
Untuk menjadi komunikator yang bisa menyampaikan pesan dengan baik kepada komunikan, pastinya harus menerapkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh komunikator, antara lain: kedekatan dengan khalayak, mempunyai kesamaan dan daya tarik sosial dan fisik, kesamaan dengan komunikan, dikenal kredibilitasnya dan otoritasnya.

DAFTAR PUSTAKA
Deddy, Mulyana. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005. Onong, Uchjana Efendi. Ilmu, Teori & Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000.
Hamad, Ibnu. Perencanaan Program Komunikasi Edisi Kedua. Universitas Terbuka, Jakarta, 2007.