Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

KEWIRAUSAHAAN


URGENSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN

SECARA umum masyarakat sekarang ini sedang dihadapkan kepada masalah pelik tentang pendidikan. Bagi yang lulus UN tentunya merasa bersyukur dibandingkan yang belum berhasil, meski masih terhadang dengan melanjutkan pendidikannya, yang membutuhkan tingkat kecerdasan, waktu dan dana yang tidak sedikit.

Bagi yang masih sekolah maupun kuliah masih disibukkan dengan ujian akhir, yang banyak menyedot konsentrasi dan perhatian lebih supaya bisa naik ke jenjang di atasnya. Pokoknya bulan-bulan ini para orang tua dan siswa masih disibukkan dengan urusan pendidikan, setelah terkena kasus kenaikan harga-harga barang dan jasa karena kenaikan harga BBM maupun dampak krisis global.

Apalagi bagi yang mencari pekerjaan sekarang ini bukan perkara yang mudah. Di tengah kelesuan ekonomi yang masih terus berlanjut, yang namanya mencari kerja membutuhkan enerji yang lebih dan semangat pengorbanan yang sungguh besar disertai daya juang yang begitu tinggi.

Baca juga : Teori Manajemen 2022

Menurut BPS (2007), satu di antara 10 angkatan kerja kini berstatus penganggur. Padahal menurut penelitian setiap pertumbuhan ekonomi 1 persen hanya mampu menciptakan sebanyak sekitar 265.000 lapangan kerja baru. Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkisar antara 6 persen, maka hanya tersedia sebanyak sekitar 1.590.000 lapangan kerja baru.

Lulusan sarjana baru setiap tahunnya lebih dari 300.000 orang langsung masuk ke pasar kerja beserta para lulusan tahun lalu yang belum kerja atau tidak cocok dengan pekerjaan yang didapatkan ditambah lagi para pencari kerja dari strata pendidikan lainnya. Akibatnya, banyak terjadi pengangguran dan sangat disayangkan makin banyaknya terjadi pengangguran terdidik.

Keberhasilan pendidikan bukan tanggung jawab pemerintah semata, akan tetapi lembaga pendidikan baik dari strata terbawah (taman kanak-kanak) sampai tertinggi (perguruan tinggi) dan masyarakat ikut bertanggung jawab. Memang tujuan pendidikan bukan semata menciptakan seseorang untuk dapat bekerja, akan tetapi semestinya pendidikan yang diperolehnya dapat menyiapkan bekal untuk mempermudah mendapat pekerjaaan.

Pendidikan yang diberikan kepada anak didik harus memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kecenderungan pendidikan yang sekarang lebih tertumpu kepada aspek kognitif, seperti hafalan dan kurang kepada kedua aspek lainnya, maka makin membuat anak didik kurang tanggap dan tangguh dalam menghadapi sesuatu masalah yang baru. Akibatnya, peserta didik cenderung mengejar nilai yang tinggi, akan tetapi sering kurang mengerti akan sustansinya

Posisi sentral

Keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh kepandaian yang dipunyai, akan tetapi oleh faktor lainnya yang sangat penting. Tingkat kecerdasan kira-kira hanya menyumbang 20-30 persen keberhasilan, selebihnya ditentukan oleh soft skills. Penelitian NACE (National Association of Colleges and Employers) pada tahun 2005 menunjukkan hal tersebut, di mana pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82 persen soft skills dan 18 persen hard skills (misal indeks prestasi yang tinggi).

Soft skills menurut Berthall (dalam Diknas, 2008) adalah tingkah laku personal dan interpersonal yang dapat mengembangkan dan memaksimumkan kinerja seseorang manusia (misal pelatihan, pengembangan kerja sama tim, inisiatif, pengambilan keputusan dll). Dengan demikian kemampuan soft skills tercermin dalam perilaku seseorang yang memiliki kepribadian, sikap dan perilaku yang dapat diterima dalam kehidupan bermasyarakat.

Selaras dengan kemampuan soft skills, maka para peserta didik perlu dibekali dengan pendidikan kemampuan kewirausahaan (entrepreneurship) yang handal. Dengan dibekali pengetahuan kewirausahaan yang memadai dan disertai segi-segi praktiknya, maka para lulusan mempunyai kemauan dan kemampuan yang memadai, sehingga tidak merasa kebingungan ketika harus memasuki pasaran kerja.

Joseph Schumpeter sebagai pakar ekonomi kelembagaan berpendapat kewirausahaan sangat penting dalam menentukan kemajuan perekonomian suatu negara. Pemikirannya Schumpeter bertumpu kepada ekonomi jangka panjang yang terlihat dalam analisisnya baik mengenai terjadinya invensi dan inovasi penemuan- penemuan baru yang dapat menentukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Machfoedz dan Machfoedz (2004) berpendapat wirausahawan adalah orang yang bertanggungjawab dalam menyusun, mengelola dan mengukur resiko suatu usaha bisnis. Dengan demikian, wirausahawan adalah inovator yang mampu memanfaatkan dan kesempatan menjadi ide yang dapat dijual atau dipasarkan, memberi nilai tambah dengan memanfaatkan upaya, waktu, biaya, atau kecakapan dengan tujuan mendapat keuntungan.

Sejak dini Mata pelajaran atau mata kuliah kewirausahaan sekarang ini perlu diberikan kepada semua peserta didik. Demikian juga kalau memungkinkan setiap pelajaran, di masukkan unsur kewirausahaan yang di dalamnya terkandung kreativitas, inovasi dan tidak takut kepada resiko, sehingga aspek praktik di lapangan menjadi prioritas utama.

Kita masih ingat pendidikan pada masa lalu penuh dengan prakarya maupun muatan lokal. Para siswa pada SD (bisa juga TK) maupun tingkat pendidikan lainnya diminta membuat prakarya dengan membuat berbagai barang yang bisa dijual dan uang yang terkumpul dapat ditabung. Pada muatan lokal bisa berlatih mengerjakan sawah milik perangkat desa dan hasilnya bisa sebagai kas sekolahan untuk mengadakan berbagai kegiatan seperti kemah maupun peringatan hari-hari bersejarah.

Kenangan akan pendidikan pada masa lalu, sekarang ini menjadi penting dalam upaya menciptakan jiwa kewirausahaan pada para peserta didik. Lihatlah kesuksesan ekonomi etnis keturunan Cina sekarang ini di Indonesia, karena semenjak kecil sudah diajari bagaimana bisa mandiri dalam menekuni suatu usaha bisnis. Bahkan, berbagai negara lain yang sekarang maju pendidikannya tidak terlepas memfokuskan pada pendidikan kewirausahaan beserta praktiknya, yang sebenarnya dulu pernah dimiliki dalam ranah pendidikan kita.

Sekarang ini di mana-mana banyak terjadi pengangguran, maka supaya nilai pendidikan menjadi begitu berarti diperlukan revitalisasi pendidikan kewirausahaan dengan wajah baru yang sesuai dengan keadaan kini. Praktik-praktik kewirausahaan bisa meniru cara-cara pemberian prakarya maupun muatan lokal yang disesuaiakan dengan kekhasan daerah, yang hasilnya harus bisa dijual supaya bisa berlatih mencari peluang kerja dan menabung.

Pada sekolah maupun kampus bisa juga didirikan berbagai gerai seperti penjual makanan, simpan pinjam, jasa tiket transportasi, perbankan, kursus bahasa asing dan sebagainya. Para peserta didik secara bergantian mendapat tugas berpraktik di sini dengan target- target yang telah ditentukan, supaya terbiasa bekerja dengan perencanaan dengan target yang sudah ditentukan.

Klinik inkubator untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi oleh UKM maupun perusahaan lainnya, juga akan mendukung peserta didik paham akan dunia kewirausahaan yang begitu menarik dan menantang. Belum lagi, terjun praktik pada berbagai perusahaan, akan menambah pengalaman para peserta didik akan dunia usaha yang begitu luas terbentang.

Dengan pendidikan yang berbasis kewirausahaan maka para lulusannya tidak perlu terpaku hanya bekerja di sektor formal, seperti menjadi pegawai negeri, bekerja di BUMN, maupun lainnya yang kelihatan mentereng. Bahkan dengan bekerja di sektor swasta yang berasis kewirausahaan dapat menciptakan tenaga kerja alias dapat menjadi manajer, bukan semata sebagai pekerja.

Keberhasilan pendidikan kewirausahaan akan mengurangi masalah ketenagakerjaan dan kemiskinan, yang merupakan momok bagi bangsa dan negara Indonesia. Keberhasilan sangat ditentukan oleh partisipasi para stakeholders pendidikan, seperti pihak pemerintah, pengusaha, dunia perbankan maupun masyarakat luas lainnya. Dr Purbayu Budi Santosa Dosen FE UNDIP.